LightBlog

Ketika ditanya kenapa kamu menyukai olahraga MMA –terlepas kita sebagai pelaku atau hanya sekedar penikmat, jawaban kita akan ber-macam2. Co...

Alasan Kenapa Suka MMA

Ketika ditanya kenapa kamu menyukai olahraga MMA –terlepas kita sebagai pelaku atau hanya sekedar penikmat, jawaban kita akan ber-macam2. Coba saja tanyakan ke mereka yang ada di gym atau dojo. Jawabannya pun beragam. Ada yang menjawab tertarik MMA karena; MMA itu keren, pingin ikut tanding di Octagon, habis pacarku suka nonton MMA sih, untuk membuktikan kemampuan setelah bertahun2 berlatih beladiri, adrenalin, pingin ngetop, pingin nyobain kehebatan anak MMA, menaikkan pamor perguruan tempat berlatih, dll, dsb sampai ke alasan yang paling mendekati perut, yakni mencari nafkah. Dan mungkin akan masih banyak lagi. Tetapi tahukah anda ketika lima atau sepuluh tahun yang lalu kalimat yang sama ditanyakan ke mereka? Bisa jadi 90% masih belum mengenal apa itu MMA. Apalagi menyukainya.

Saya –sebagaimana teman2 penyuka tayangan olahraga MMA, memiliki satu dua alasan kuat mengapa menggemari olahraga yang dibilang teramat sadis ini. Yang pertama tentu mengenai Respect –dengan  tidak bermaksud mengekor tulisan om Admin di landing page lho. Dari sekian ratus pertarungan MMA yg pernah ada kita menyaksikan banyak petarung saling menghormati lawannya dengan cara2 yang sangat terpuji –yang bahkan di kehidupan se-hari2 kita jarang menemukannya. Mereka saling menunjukkan rasa hormat setelah pertandingan berakhir. Tak ada dendam. Tak ada sakit hati. Paling tidak itu menurut pengakuan beberapa sahabat penggiat MMA. Tetapi tentu saja tidak termasuk trash talking, karena ini memang menjadi bagian dari bumbu2 pedas dan pemanis di bisnis MMA.

Yang ke-dua, saya melihat MMA bisa menyatukan bermacam style / aliran bela diri yang ada di dunia. Bagaimana tidak, dulu kita tidak akan pernah membayangkan bahwa suatu hari akan ada seorang Petinju bertanding melawan seorang Pegulat.  Atau Pegulat melawan Judoka. Dst. Dan masih banyak lagi pertemuan antar bermacam beladiri dari berbagai belahan bumi. Tarung legenda antara Petinju Muhammad Ali VS wrestler Antonio Inoki di Jepang bisa jadi merupakan pondasi dan cikal bakal tumbuhnya olahraga MMA di kemudian hari. Tetapi percayalah bahwa menonton mereka bertarung selama beberapa ronde membuat kita jengkel, geli dan mungkin me-maki2. Kenapa? Karena pertemuan keduanya ibarat menyatukan dua buah lagu yang nada dasarnya berbeda. Tidak nyambung. Alias tidak ketemu. Yang satu mukul, yang satunya hanya boleh menendang sambil leyeh2 di lantai macam kura2 telentang. Kapan berantemnya? Setelah ada MMA, semuanya menjadi indah. Menjadi adil. Menjadi masuk akal. Masing2 kontestan boleh memukul, menendang, menyikut, mendengkul, membanting, mencekik, mengunci dst. Tak peduli apapun beladiri awal yang ditekuninya, ketika masuk ke dalam kandang Octagon, semua harus tunduk dengan hanya menggunakan teknik2 striking, clinch, takedown defense , grappling dan tentu saja groundfighting. Dan rata2 setiap aliran beladiri memiliki teknik2 tersebut dalam kurikulum yang diajarkan –meskipun mungkin tidak selengkap di MMA.

Alasan ini juga memiliki arti literal di mana dalam MMA setiap pelaku beladiri bisa mengekang egonya untuk lebih bisa menerima pendapat orang lain. Lebih open mind. Lebih humble. Karena pada akhirnya mereka menyadari bahwa tidak ada yang sempurna. Kita harus menyerap yang berguna, membuang yang tidak bermanfaat  dan menguatkan potensi yang sudah kita miliki. Ini kutipan menurut almarhum Bruce Lee yang juga dinobatkan sebagai Bapak MMA.

Yang ke-tiga: MMA tidak mengajarkan fanatisme buta. At least ini adalah opini pribadi saya. Saya belum pernah mendengar seorang praktisi MMA marah ketika ada yang mengolok-olok petarung MMA adalah gay atau homo hanya karena mereka bertarung dengan cara bergumul dan bergulat di lantai yang mengesankan cemoohan di atas adalah benar. Atau marah ketika ada yang nyeletuk MMA itu kaya "cewe" banget karena ngga fight like a man. Atau juga karena dibilang MMA itu tidak berperikemanusiaan, barbaric atau bahkan jika disebut sebagai olahraga “kafir” sekalipun. Belum pernah saya mendengar mereka tersinggung.  Tetapi jangan coba2 kamu bilang ke sebuah aliran beladiri atau perguruan tertentu bahwa teknik2 yang mereka pelajari tak lebih dari sekedar gerakan yang tak ada artinya dan tidak applicable untuk dipakai bertarung. Bisa2 kumismu pindah ke jidat. Ini bukan soal aliran. Tetapi memang mindset-nya sudah berbeda. Tidak ada yang salah.

Yang ke-empat, MMA sangat terbuka dengan bermacam teknik sebagai “plugin “ tambahan untuk menyempurnakan teknik yang ada. Gimana ya nulisnya? Pokoknya gitu deh -bersambung.

Gambar diambil dan diedit dari sini.

0 comments: