LightBlog

SLEMAN - Dalam rangka melestarikan budaya dan olahraga panahan tradisional atau jemparingan, Komunitas Jemparingan Condongcatur (JCC) ...

Gladhen Alit Syawalan





SLEMAN- Dalam rangka melestarikan budaya dan olahraga panahan tradisional atau jemparingan, Komunitas Jemparingan Condongcatur (JCC) mengadakan Gladhen Alit (perlombaan kecil) panahan tradisional gaya Mataram di Sasana Jemparingan Agung Sedayu (JAS), Joho, Condongcatur, Depok, Sleman, Minggu (24/6).

Ketua Jemparingan Condongcatur (JCC) Sahid Fahrudin mengatakan, kegiatan ini digelar setiap selapan (35 hari) setiap Kamis Pahing. Namun karena bertepatan pada bulan syawal acara diundur menjadi hari Minggu Kliwon ini. “Ini sebagai ajang bersilaturahmi untuk mempererat persaudaraan antar komunitas jemparingan sekaligus mengasah kemampuan para penjemparing sehingga akan muncul atlet-atlet berkualitas,’’ ujarnya.

Gladhen Alit terbagi menjadi dua kategori, yaitu kategori Titis Putra dan Titis Putri. Kegiatan ini diikuti lebih dari 100 peserta dari Kulonprogo, Sleman, Bantul, Kota Jogja, Klaten, Solo, Wonogiri, Sragen, dan Magetan.
Hadiah yang disediakan berupa sembako, aneka mi instan, gula, kopi, kaus, dan trofi untuk masing-masing kategori. Hadiah tersebut diberikan kepada peserta yang anak panahnya berhasil mengenai sasaran (mencok). “Ini bukan soal hadiah tapi nguri-uri kabudayan lebih penting,” tambahnya.

Pemenang Gladhen Alit ini adalah Titis Putra; Bimo Pandhe dari Al-Jawi, juara pertama. Juara kedua Afrida Mahameru (JCC) dan juara III Lasro (Atmajaya). Titis Putri, juara I Casandra (Klaten), juara II Handayani (Wedi Klaten) dan juara III Sri Kurniasih (JCC).

Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji menyambut baik kegiatan ini. Selain dapat memberikan hiburan, kegiatan ini juga dapat menjadi salah satu sarana dalam pelestarian kebudayaan. Yakni mengenalkan makna dari olah raga tradisional yang merupakan warisan leluhur Mataram. “Semoga dapat memberikan manfaat secara berkesinambungan, dan dapat terus menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan lokal yang diwariskan leluhur,” harapnya. (*/din/mg1)

Berita dikutip dari sini.

0 comments: